f Rembulan Kematian, Persembahan Seniman Serba Bisa Jefri Al Malay | RIAU1.COM
//riau1.com/

#top

Rembulan Kematian, Persembahan Seniman Serba Bisa Jefri Al Malay

R1/wira


Jefri Al Malay/Net Jefri Al Malay/Net

RIAU1.COM - Salah seorang seniman serba bisa dari Riau yakni Jefrizal, dengan nama penanya Jefri al Malay.

www.jualbuy.com

Baca Juga: Berikut Syarat untuk Pengurusan Izin Lembaga Pelatihan Kerja di Pekanbaru

Jefri lahir di Desa Sejangat, kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis 16 Oktober 1979. Menamatkan kuliah di Akademi Kesenian Melayu Riau Jurusan Teater.

Selain menulis juga aktif di teater sebagai penulis naskah, pemain dan beberapa kali menjadi sutradara. 

Satu dari karya puisi Jefri al Malay yakni puisi Rembulan Kematian yang dipersembahkannya tahun 2009 yang lalu. 

Berikut puisi Rembulan Kematian Jefri al Malay.

Rembulan Kematian

Ia berkata
“Bunuhlah nyawa di ranting waktu”
Tak perlu ragu
Sudah saatnya
Tamat cerita
Ubun-ubun yang kau cium
Jangan disangka
Ada cinta di bibirku
Kematian lebih penting
Lebih dekat
Sedekat malaikat
Catat segala cacat

Berita apakah akhirnya
“selain hasrat yang menunam ke surga”
Kau sebut kulari
Dari jarum waktu
Sedang kaki
Mencipta jejak

Biar anak cucu
Mengeja kisah
Di ambang pintu
Dan nostalgia dosa
Jangan disingkap
Kain kafan itu
Telah membelitku
Mengantarkan ke makam-makam pengasingan

Kukecup putriku
Di atas sajadah rindu
Mantra-mantra perawan
Jangan lupa disimpan
Kupersembahkan padanya
Matahari senja
Biar cemburu
Terkelupas luncas
Jangan kau sebut aku pergi
Tapi hidup
Dalam ucap
Sebab cap cinta
Telah kurekat
Tepat di ciuman terakhir

Di sana telah kusandar
Cita-cita purba
Agar di kota
Orang menyebutnya
“Surga”
“Surga dunia”
Sedang di kampung
Tempat sunyi
Di hulu dan hilir
Mereka sepakat
Memekakkan telinga
“Untung”
“Untung dunia”

Baca Juga: Ingin Dirikan Lembaga Kesejahteraan Sosial di Pekanbaru? Berikut Syaratnya

Tapi biarlah
Rembulan kematian
Yang kusangkut
Di dinding sumur
Bukan langkah kalah
Hanya sengak di dada
Yang kubunuh
Di dini hari
Dan keris yang menghujam
Telah kusarung
Di pinggang laksemana
Engkau mungkin ingat
Dendam yang kita taburi
Di ranjang ujung malam
Sayup setelahnya
Hanya desah
Ya desah…!
Persetubuhan usai sudah





Loading...
loading...