f Drama Singgasana Rezita | RIAU1.COM
//riau1.com/

#opini

Drama Singgasana Rezita

R1/wira


Bupati dan Wakil Bupati Indragiri Hulu Terpilih, Rezita Meylani dan Junaidi Rachmat (Net) Bupati dan Wakil Bupati Indragiri Hulu Terpilih, Rezita Meylani dan Junaidi Rachmat (Net)

RIAU1.COM - Hasil penghitungannya cukup dramatis. Sebelum pemungutan suara ulang di satu tempat pemungutan suara itu: Unggul hanya setipis kulit ari.

Baca Juga: Dilema Pengurusan Adminduk dengan Kewajiban Vaksin

Rezita Meylani akhirnya pagi ini dilantik. Prosesnya juga paling akhir di Kementerian. Tercecer dari delapan daerah lainnya di Riau.

Keterpilihan Rezita bisa jadi mengejutkan. Namun bisa juga tidak.

Menjadi tidak mengejutkan jika melihat  siapa suaminya, Yopi Arianto: Bupati dua periode di kabupaten itu. Ada modal popularitas yang dipapah. Penilaian subjektif memang. Sebagian orang menyebutnya dinasti politik.

Dan karena potensi menang yang tidak mengejutkan itu juga jadi penyebab parpol diakhir waktu memberi dukungan. Padahal sudah punya tiket dijalur perseorangan.

Dia melangkahi beberapa kelaziman. Setidaknya di Riau. Jadi salah satu perempuan pertama jadi kepala daerah. Yang satu lagi Kasmarni. Pada waktu Pilkada yang sama.

Dari sisi usia, Rezita bupati  termuda. Kabarnya. Belum kepala tiga. Lebih muda dari sang suami saat ini jadi bupati di periode pertama.

Berbagai studi kajian politik dan Pilkada, harusnya menjadi menarik dibahas di kabupaten Indragiri Hulu tadi itu. Tentang: Keterpilihan perempuan. Warisan kepemimpinan suami. Dan usia muda jadi kepala daerah di masa sekarang ini.

Biarlah itu jadi konsentrasi kajian mereka yang ingin berkelindan di situ. Berharap akan lahir teori-teori baru. 

Dan menakhodai Indragiri Hulu pastinya harus jadi konsentrasi Rezita.

Dua periode kepemimpinan bupati yang kebetulan suaminya itu. Atau mungkin dibalik, suaminya yang kebetulan jadi bupati dua periode itu: Meninggalkan catatan prestasi, juga bertumpuk masalah yang belum tuntas. Sebut saja jalan Air Molek-Peranap yang penuh lubang dan gelombang itu. Meski wewenang provinsi.

Prestasi dan masalah yang diwariskan akan jadi tolak ukur: gagal atau berhasil di bawah kepemimpinan yang baru. Waktunya singkat. Dipangkas aturan Pilkada serentak tiga tahun lagi.

Baca Juga: Mengenal Hukum Secara Sederhana, Mengayati Untuk Mengamalkannya

Tapak dimulai Puan. Mengikuti jejak suami dua periode. Atau: Dayung Tak Lagi Serempak.


Oleh: Alwira Fanzary Indragiri; Wartawan 





Loading...
loading...