//riau1.com/

#nasional

Pertempuran Aru, Perang Laut Terakhir Indonesia Dengan Belanda

R1/azhar


KRI Macan Tutul (Foto: Istimewa/internet) KRI Macan Tutul (Foto: Istimewa/internet)

RIAU1.COM - Hancurnya KRI Macan Tutul yang dipimpin Yos Sudarso dalam pertempuran Aru pada 1962 merupakan perang lautan terakhir antara Indonesia dengan Belanda dalam memperebutkan wilayah paling timur Indonesia, Irian.

Meskipun operasi Mandala dalam misi balas dendam sudah digaungkan, tetap saja perang lautan tidak lagi pernah terjadi dikutip dari kumparan.com, Minggu, 17 Januari 2021.

Alasannya, karena setelah penentuan pendapat rakyat, masyarakat Irian memilih bergabung dengan Indonesia.

Semua bermula pada Januari 1962, ketegangan karena perebutan Irian Barat antara Indonesia dan Belanda tak terelakkan. Belanda melanggar kesepakatan Konferensi Meja Bundar.

Sikap kekanak-kanakan itu membuat Indonesia mulai merancang sebuah operasi militer terbatas.

Baca Juga: Diikuti 70 Ribu Mitra Gojek, Jubir Satgas COVID-19 Sosialisasikan Protokol Kesehatan J3K dan Manfaat Vaksin

TNI AL melancarkan sebuah operasi klandestin dengan cara menyusupkan pasukan ke Irian. Maka diturunkanlah tiga motor torpedo boat (MTB), KRI Macan Tutul, KRI Macam Kumbang, dan KRI Harimau.

Setelah kapal semakin dekat dengan Irian, pesawat pengintai milik Belanda malah memergokinya.

Tembakan peringatan pertama dilepaskan Belanda melesat dan jatuh di dekat KRI Harimau, di mana Kolonel Sudomo dan sejumlah petinggi TNI AL berada di atas kapal tersebut.

Menyaksikan itu, Komodor Yos Sudarso yang berada di KRI Macan Tutul segera memerintahkan kapal lainnya untuk putar balik dan mundur.

Sayang, Belanda mengartikan hal tersebut sebagai gerakan menyerang sehingga melepaskan tembakan. Membuat KRI Macan Tutul hancur.

Sebelum karam di tengah Perairan Aru, Yos Sudarso berteriak lantang Koarkan terus semangat pertempuran!.

Baca Juga: Gempa 5,1 Magnitudo di Padang Sidempuan Terasa Sampai ke Sibolga, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami





Loading...
loading...