f Perduli Muslim Uighur, Inggris Resmi Boikot Olimpiade China | RIAU1.COM
//riau1.com/

#internasional

Perduli Muslim Uighur, Inggris Resmi Boikot Olimpiade China

R1/riki


Tim Loughton Tim Loughton

RIAU1.COM - Dengan suara bulat, Parlemen Inggris secara diplomatis sepakat untuk memboikot Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing, Kamis (15/7).

Upaya ini merupakan bentuk hukuman yang dilayangkan Inggris atas perlakuan dan kekejaman China terhadap penduduk Muslim Uighur.

Mosi yang dikeluarkan House of Commons (Parlemen Inggris) menyatakan bahwa Olimpiade tidak boleh diadakan di negara yang pemerintahnya secara kredibel dituduh melakukan kejahatan dan kekejaman massal.
www.jualbuy.com

Baca Juga: Nama Anwar Ibrahim Sahabat Bj Habibie Mencuat Sebagai Kandidat Perdana Menteri Malaysia Gantikan Muhyiddin


Pemerintah Inggris; termasuk keluarga kerajaan, secara resmi menolak undangan untuk menghadiri Olimpiade kecuali Beijing mengakhiri penganiayaannya terhadap minoritas Muslim di barat laut Xinjiang.

Tim Loughton, anggota parlemen Inggris dari Partai Konservatif, adalah yang memperkenalkan mosi tersebut. Dia mengatakan bahwa China sudah banyak membuat janji tentang peningkatan hak asasi manusia namun tak pernah direalisasikan.

"Penganugerahan Olimpiade 2008 ke Beijing didampingi oleh Komite Olimpiade Internasional yang menjanjikan bahwa Olimpiade akan bertindak sebagai katalis untuk reformasi hak asasi manusia di China," katanya.

Baca Juga: Langit Kompleks Gaza Palestina Diselimuti Asap Tebal Dari Kebakaran Hutan

"Yah, genosida yang diakui secara luas di Xinjiang kemudian. Ribuan orang Tibet ditangkap dan dipenjarakan, dipindahkan, disiksa dan dibunuh kemudian. Pemusnahan kebebasan berbicara, kebebasan pers dan kebebasan politik di Hong Kong dan penghancuran Deklarasi Bersama Tiongkok-Inggris. dan pemberlakuan hukum keamanan nasional nanti," tambah Loughton.

China secara luas diyakini telah menahan lebih dari satu juta warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya di kamp-kamp Xinjiang di mana mereka menjadi sasaran kerja paksa, sterilisasi hingga pembunuhan.

 

Co-Writer: Amerita Syahrial





Loading...
loading...