//riau1.com/

#bisnis

Dua Kementerian Akan Evaluasi Tiket Pesawat Garuda Indonesia Pekan Depan

R1/surya


Maskapai Garuda Indonesia. Foto: Detik.com. Maskapai Garuda Indonesia. Foto: Detik.com.

RIAU1.COM -Mahalnya harga tiket belakangan ini menjadi isu yang menyelimuti para maskapai. Tidak terkecuali maskapai BUMN, PT Garuda Indonesia Tbk.

Dilansir dari Detik.com, Selasa (11/6/2019), berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mengatasi polemik tersebut. Setelah menurunkan tarif batas atas (TBA), rencananya pemerintah akan kembali melakukan evalusasi terhadap harga tiket pesawat.

Evaluasi itu dilihat dari dampak penurunan TBA 12-16%. Kementerian BUMN pun mengamini bahwa tarif tiket pesawat Garuda Indonesia juga akan dievaluasi.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menyatakan akan terus memantau harga tiket PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Rini ingin ke depan Garuda memberikan harga tiket yang lebih baik.

Demikian disampaikan Rini usai acara halal bihalal di Kementerian BUMN Jakarta, Senin (10/6/2019).

"Garuda terus kita review, Insyaallah ke depan kita makin bisa lebih baik harusnya coba berikan harga yang lebih baik. Jadi memang ada daerah-daerah yang mungkin harus kita pikirkan untuk bagaimana kita bisa berikan tiket yang lebih baik," katanya.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebut harga tiket sebagai faktor turunnya jumlah penumpang angkutan udara saat mudik. Kondisi ini berbanding terbalik dengan angkutan umum lain seperti kereta, bus dan kapal.

Sebutnya, penumpang kereta api naik 9,4-9,5%, bus naik 10-15%, kapal naik 10-15%. Sementara, penumpang pesawat turun 15%.

Budi Karya mengatakan, turunnya jumlah penumpang karena banyak maskapai tak mengoperasikan pesawat. Penurunan ini terjadi juga karena disebabkan harga tiket pesawat.

"Penyebabnya pengurangan jumlah pesawat, kalau aja jumlah pesawat ditambah tidak sebanyak itu. Saya dengar ada pesawat tidak dioperasikan, selain pesawat MAX itu tidak dioperasikan, karena banyak yang tidak dapat tiket. Tentunya juga karena harga (tiket)," jelasnya.



BACA JUGA : Banyak Dituding Warganet Punya Perusahaan Batu Bara, Ini Cuitan Kaesang Pangarep

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan mengevaluasi penurunan harga tiket pesawat. Seperti diketahui, tarif batas atas tiket pesawat baru diturunkan sebesar 12-16%.

Menurut Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono minggu depan pihaknya akan mengevaluasi harga tiket pesawat. Penilaian tersebut akan difokuskan pada dampak penurunan batas atas.

Bila mana, dampak penurunan batas atas tak begitu signifikan dirasa maka pemerintah akan mencari opsi lain. Misalnya dengan mengundang maskapai asing masuk ke pasar Indonesia.

"Sepakat kita evaluasi setelah Lebaran, kan kalau Lebaran harga tinggi karena peak season. Jadi pas kondisi normal. Minggu depan kita akan evaluasi. Setelah itu, jadi bagaimana pemikirannya mengundang maskapai asing kita akan bicarakan semua plus minusnya," jelas dia dalam acara halalbihalal di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (10/6/2019).

Ia menjelaskan, saat ini struktur pasar penerbangan di Indonesia masih dikuasai oleh dua perusahaan besar atau duopoli. Sehingga dinilai perlu adanya persaingan lebih guna menurunkan harga bila penurunan tarif batas atas tak berdampak.

"Evaluasi bagaimana, termasuk struktur market duopoli. Jadi memaksa airlines mengarah ke persaingan, dengan menarik airlines asing itu harus hati-harti sekali," tutupnya.

Tingginya harga tiket pesawat menjadi salah satu penyebab tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang mengalami penurunan di April 2019.

TPK hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada April 2019 mencapai 53,90% atau turun 3,53 poin dibandingkan TPK pada April 2018 yang sebesar 57,43%. Meskipun dibandingkan Maret 2019 naik 1,02 poin.

"Kalau tingkat pemenuhan hotel itu kan pada akhirnya jadi sangat komprehensif tidak satu faktor, tapi banyak faktor termasuk tiket pesawat," kata Direktur Statistik Harga BPS Nurul Hasanuddin di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (10/6/2019).

Hasan mengatakan, mahalnya harga tiket pesawat juga memberikan dampak terhadap kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) hingga kuliner tanah air.



BACA JUGA : Pria Asal Dumai Atta Halilintar Jadi Youtuber Terkaya ke-8 Dunia, Ini Omzetnya

BPS mencatat, pada April 2019 jumlah kunjungan wisman ke Indonesia sebanyak 1,3 juta orang atau turun 2,74% dibanding bulan sebelumnya, dan turun 0,11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Karena kalau orang mau melakukan pariwisata kan ada hotel, ada objek wisata, ada juga terkait dengan kuliner restorannya terpengaruh. Pasti ada, yang jelas travel jadi tidak fleksibel, kalau dulu kan travel bisa bikin paket terkait mulai dari pesawat, hotelnya," ungkap dia.

Adapun, jumlah penumpang angkutan udara atau pesawat per April 2019 pun tercatat sebanyak 5,66 juta atau turun 370.000 orang dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 6,03 juta orang.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, okupansi hotel pada lebaran tahun ini turun 30% dibandingkan lebaran 2018.

"Kalau dibandingkan dengan tahun yang sama dengan masa lebaran terjadi penurunan. (Okupansi turun) sekitar 30-an persen lah. Itu bervariasi di setiap daerah ya," katanya saat dihubungi detikFinance, Senin (10/6/2019).

Dibandingkan hari biasa, lanjut dia tentu saja terjadi kenaikan tapi tak sebanyak lebaran sebelumnya. Menurutnya tren penurunan ini sudah terlihat sejak awal tahun, di mana okupansi hotel turun hingga 40%.

"Kita kan sebenarnya dari Januari kan kalau bicara okupansi sudah terjadi penurunan ya. (Okupansi turunnya) sebesar 20 sampai 40 persen," jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan peningkatan okupansi hotel selama lebaran tahun ini rentangnya lebih pendek. Jika tahun lalu tingginya jumlah penyewa hotel bisa sampai 14 hari, sekarang hanya maksimal 3 hari.

"Kita bicaranya kalau di sektor hotel kita bicara berapa hari terjadi peningkatan okupansi karena adanya lebaran. Yang biasanya umumnya kita dapat 5 sampai 14 hari, itu sekarang kita paling banyak cuma dapat 2 hari, paling lama 3 hari," paparnya.

"Berarti sekarang karena (peningkatan okupansi) cuma jadi 3 hari berarti kunjungan di tiap destinasi terjadi penurunan, otomatis terjadi penurunan di okupansi hotel," tambahnya.


Informasi
Tlp +62 853 2000 4928
Email : info@riau1.com
(Sertakan data diri)